-Malam ini aku bertamu ke bilikmu..
Disana menunggu berbuku rindu tentang bersatu
Mengenang kisah tentang perjuangan cinta yang gundah
*Terbanglah...,,
Bawa rindu untukku selalu
Kemudian berikan,
Nafas dalam gelisah yang memburu
*Dan sapalah temu
Biar tatap kita beradu satu
Diheningnya kalbu kita
Dalam doa dan air mata
-Ah..siapalah aku,
Berani menatapmu berlebih dari inginku
Aku hanya sahaya
Yang mendamba diri pada cinta
*Dibawah pendar cahaya
Gemintang mengaburkan pandang jadi bayang
Inilah aku...
Sahaya dengan berjuta cinta yang meradang
*Sebab engkaulah Hai-ku...
Di satu temu jari manis yang mengikat erat janji
Yang ingin menjadikanmu ibarat penyempurna
Dalam cerita malam purnama
*Cacatku..
Pada pincang kaki,,tuli telinga,buta mata,
Ada masa lalu
Kelam masih menghantui hadirku
*Dan pujalah
Agar cinta bisa menyatukan kita
Pada rupa rahasia
Indah disana...
*Disana
Pada altar penyempurnaan aku dan engkau
Menjadikan kita selamanya
Menyatu pada pilar keluarga
-Ah..bukan itu yang kudamba
Aku menginginkanmu seperti adamu
Yang memeluk gundah ditiap langkah
Tanpa arah..
Ujung Timur Pulau Jawa
@senja_kata
Kamis, 06 November 2014
Rabu, 11 Desember 2013
Satu Waktu Jika (Ku) Kembali
Satu waktu yang (ingin) kembali
Untuk kita yang saat ini sedang memeluk erat jarak
Mengelabuhi rindu-rindu yang tak ter-elak dari batin sepi
Saling mencoba untuk tersenyum menguasai hari tanpa tahu isi
hati
Adalah kita..
Yang hanya bisa menuliskan sajak-sajak tanpa t(c)inta
Mengukir sepi denga kenangan-kenangan yang kita miliki
Sendiri..
Di genggaman tangan..
Basah akan doa dan harapan tuk bersua
Menjadi nyata..
Pun aku berbincang dengan malam,
Menerka sebuah jawaban pasti yang aku tahu kan kau
ungkapkan..
“telah kujatuhkan hati, pada daun.. yang kau lalui setiap
pagi sebagai embun”
“telah kujatuhkan hati, pada mimpi..yang kau tunggu sebagai
malam”
“dan telah kujatuhkan hati, pada luka..yang k(a)u sebut
sebagai cinta”
Hilanglah satu waktu kembali..
Kembali ungkapkan rasa yang tak...
Terkata....
ujung jawa sebelah timur selatan
Jumat, 29 November 2013
Sebuah Tangga di Lobi Kampus
Sebuah tangga,
Yang kau turuni...
Dan tatapan kita bertemu untuk yang terakhir
Ya, untuk terakhir
dari pertanyaan—yang tak bisa kita jawab sendiri
dan kita saling memunggungi, ian
mencoba meninggalkan rindu yang kita pikul di punggung
masing-masing
“adakah dari rindu kita yang jatuh? “
“Jatuh sebagai luka, jatuh sebagai air mata, jatuh sebagai
penyesalan”
“Sebab tak ada kata perpisahan, selain pandangan kita yang menjauh”
Selasa, 29 Oktober 2013
yakinkan aku!
Katamu, "tak perlu bertemu untuk mencintaiku"
"cukup yakinkan aku.."
dan aku masih saja
mengulang cinta di perbatasan senja..
saat menjauh adalah kesakitan yang tak aku kira,,
mencintaimu begitu sakit..
"cukup yakinkan aku.."
dan aku masih saja
mengulang cinta di perbatasan senja..
saat menjauh adalah kesakitan yang tak aku kira,,
mencintaimu begitu sakit..
Masih Seperti Ini
Aku terjebak lagi..
Di antara rindu-rindu yang bersemayam dalam hati..
"ya..cinta harus menguatkan" katamu
bukan...
keyakinanku..
tentang cinta yang begitu nyata namun tak sanggup aku ungkap..
pilu...
rindu ini mengusik
bayanganmu tak henti menelisik...
kau pemburu handal..
menjauhimu tetaplah aku kau temukan..
sembunyi..
cinta ku sembunyikan sendiri
cukup aku
biar aku yang merasa
bahwa cinta tak harus bersama selamanya..
doa-doa memeluk kita lebih erat..
tentang kesetiaan yang di uji
ya..aku mencintaimu
semampuku..
ujung timur jawa,
29 sep 13
Di antara rindu-rindu yang bersemayam dalam hati..
"ya..cinta harus menguatkan" katamu
bukan...
keyakinanku..
tentang cinta yang begitu nyata namun tak sanggup aku ungkap..
pilu...
rindu ini mengusik
bayanganmu tak henti menelisik...
kau pemburu handal..
menjauhimu tetaplah aku kau temukan..
sembunyi..
cinta ku sembunyikan sendiri
cukup aku
biar aku yang merasa
bahwa cinta tak harus bersama selamanya..
doa-doa memeluk kita lebih erat..
tentang kesetiaan yang di uji
ya..aku mencintaimu
semampuku..
ujung timur jawa,
29 sep 13
Senin, 16 September 2013
Kopi dan Kenangan yang Tak Usai
Dua cangkir
kopi hitam kau pesan kala itu
Di warung
86, tempat kau menungguku tanpa angan
Dan duduklah
kita ditepian hujan
Dengan gerimis
yang manis seperti senyum “kita”
Lekat kopi
tumpah di bajuku
Begitu juga
dengan kasih yang tak selesai
Tumpah ruah
di dadaku
Menyesakkan keramaian
sepanjang jalan kenangan “kita”
“Jangan
ucapkan selamat tinggal” kataku
“Tak kan
pernah” jawabmu sembari menatapku
Nanar..
Air mata
mengintip di balik kelopak mata sayuku
Harapkan
temu ialah setiap waktu
“dekap aku”
teriakku
Tak kau
dengar..
Hingar mengusik
kepergian
Bus kota
menjemputku dengan gegas
Selayak iba
melihat aku yang terpaku
Di depanmu
Dengan kisah
yang belum sempat aku sematkan
Di jari
manismu
Janjiku
Menunggumu
sebagai rindu
Berlalu
Senin, 09 September 2013
CINTA TAK SEPERTI
Cinta tak
harus diam,
Tak harus
disimpan sendirian
Sebab cinta
bukanlah mulut
Yang bisa
bungkam saat kalut
Cinta tak
bisa menunggu
Seperti
putaran waktu
Mengelilingi
360 derajat
Untuk menunjuk
pada angka 12
Cintaku tak
bisa seperti itu
Seperti
pemberhentian bus kota
Atau stasiun
kereta
Pun luasan
bandara
Sebab cinta
ialah hati
Yang bukan
untuk sekadar ditempati
Hanya
sementara kemudian disakiti
Lalu
ditinggal pergi
Cinta
bukanlah ruang tunggu
Untuk datang
dan pergi semaumu
Ia adalah
hati..
Adalah hati yang patut untuk diisi
Langganan:
Postingan (Atom)