Rabu, 11 Desember 2013

Satu Waktu Jika (Ku) Kembali

Satu waktu yang (ingin) kembali
Untuk kita yang saat ini sedang memeluk erat jarak
Mengelabuhi rindu-rindu yang tak ter-elak dari batin sepi
Saling mencoba untuk tersenyum menguasai hari tanpa tahu isi hati
Adalah kita..
Yang hanya bisa menuliskan sajak-sajak tanpa  t(c)inta
Mengukir sepi denga kenangan-kenangan yang kita miliki
Sendiri..
Di genggaman tangan..
Basah akan doa dan harapan tuk bersua
Menjadi  nyata..
Pun aku berbincang dengan malam,
Menerka sebuah jawaban pasti yang aku tahu kan kau ungkapkan..
“telah kujatuhkan hati, pada daun.. yang kau lalui setiap pagi sebagai embun”
“telah kujatuhkan hati, pada mimpi..yang kau tunggu sebagai malam”
“dan telah kujatuhkan hati, pada luka..yang k(a)u sebut sebagai cinta”
Hilanglah satu waktu kembali..
Kembali ungkapkan rasa yang tak...

Terkata....


ujung jawa sebelah timur selatan

Jumat, 29 November 2013

Sebuah Tangga di Lobi Kampus

Sebuah tangga,
Yang kau turuni...
Dan tatapan kita bertemu untuk yang terakhir
Ya, untuk terakhir
dari pertanyaan—yang tak bisa kita jawab sendiri

dan kita saling memunggungi, ian
mencoba meninggalkan rindu yang kita pikul di punggung masing-masing

“adakah dari rindu kita yang jatuh? “
“Jatuh sebagai luka, jatuh sebagai air mata, jatuh sebagai penyesalan”

“Sebab tak ada kata perpisahan, selain pandangan kita yang menjauh”

Selasa, 29 Oktober 2013

yakinkan aku!

Katamu, "tak perlu bertemu untuk mencintaiku"
"cukup yakinkan aku.."

dan aku masih saja
mengulang cinta di perbatasan senja..

saat menjauh adalah kesakitan yang tak aku kira,,

mencintaimu begitu sakit..


Masih Seperti Ini

Aku terjebak lagi..
Di antara rindu-rindu yang bersemayam dalam hati..

"ya..cinta harus menguatkan" katamu
bukan...
keyakinanku..
tentang cinta yang begitu nyata namun tak sanggup aku ungkap..

pilu...
rindu ini mengusik
bayanganmu tak henti menelisik...

kau pemburu handal..
menjauhimu tetaplah aku kau temukan..

sembunyi..
cinta ku sembunyikan sendiri

cukup aku
biar aku yang merasa
bahwa cinta tak harus bersama selamanya..

doa-doa memeluk kita lebih erat..
tentang kesetiaan yang di uji



ya..aku mencintaimu
semampuku..


ujung timur jawa,
29 sep 13

Senin, 16 September 2013

Kopi dan Kenangan yang Tak Usai

Dua cangkir kopi hitam kau pesan kala itu
Di warung 86, tempat kau menungguku tanpa angan
Dan duduklah kita ditepian hujan
Dengan gerimis yang manis seperti senyum “kita”
Lekat kopi tumpah di bajuku
Begitu juga dengan kasih yang tak selesai
Tumpah ruah di dadaku
Menyesakkan keramaian sepanjang jalan kenangan “kita”

“Jangan ucapkan selamat tinggal” kataku
“Tak kan pernah” jawabmu sembari menatapku
Nanar..
Air mata mengintip di balik kelopak mata sayuku
Harapkan temu ialah setiap waktu
“dekap aku” teriakku
Tak kau dengar..
Hingar mengusik kepergian

Bus kota menjemputku dengan gegas
Selayak iba melihat aku yang terpaku
Di depanmu
Dengan kisah yang belum sempat aku sematkan
Di jari manismu
Janjiku
Menunggumu sebagai rindu

Berlalu

Senin, 09 September 2013

CINTA TAK SEPERTI

Cinta tak harus diam,
Tak harus disimpan sendirian
Sebab cinta bukanlah mulut
Yang bisa bungkam  saat kalut

Cinta tak bisa menunggu
Seperti putaran waktu
Mengelilingi 360 derajat
Untuk menunjuk pada angka 12

Cintaku tak bisa seperti itu
Seperti pemberhentian bus kota
Atau stasiun kereta
Pun luasan bandara

Sebab cinta ialah hati
Yang bukan untuk sekadar ditempati
Hanya sementara kemudian disakiti
Lalu ditinggal pergi

Cinta bukanlah ruang tunggu
Untuk datang dan pergi semaumu
Ia adalah hati..
Adalah hati yang patut untuk diisi

Selasa, 13 Agustus 2013

SEBUAH PEMAKAMAN “KITA



Telah ku jatuhkan, tentang segala kesakitan bahkan luka-luka. Kemudian ku pesan sebuah karangan bunga, sebuah peti, juga nisan lengkap dengan tulisannya. Di tengah masa lalu, aku mengubur diriku hidup-hidup. Berbusana rapi dan mendekam dalam peti ialah kenangan. Nisan menancap tegap bertuliskan “Masa Lalu bin Tinggalkan, Lahir 6 Februari 2009, Wafat 11 Januari 2013”. Sebuah karangan bunga kertas, bekas puisi serta surat cinta semata kata “kita”. Melebur bersama hujan yang turun dari air mata kesia-siaan. Kita tak lagi ada sebagai mimpi-mimpi. Hanya jejak yang tak perlu diingat meski “kita” ialah sesaat. Dan berhembuslah ragu, menyeruak menusuk hidung hingga jantung (ku). Sesak. Ku raba dada kiriku. Sudah tak ada namamu.  Di hembusan terakhir, sebuah doa ku panjatkan “tenanglah masa lalu kita, agar tak menghantui jalan yang telah kita pilih”. Bayanganmu terpejam untuk selamanya di dasar tanah makam “Masa Lalu”.