Katamu, "tak perlu bertemu untuk mencintaiku"
"cukup yakinkan aku.."
dan aku masih saja
mengulang cinta di perbatasan senja..
saat menjauh adalah kesakitan yang tak aku kira,,
mencintaimu begitu sakit..
Selasa, 29 Oktober 2013
Masih Seperti Ini
Aku terjebak lagi..
Di antara rindu-rindu yang bersemayam dalam hati..
"ya..cinta harus menguatkan" katamu
bukan...
keyakinanku..
tentang cinta yang begitu nyata namun tak sanggup aku ungkap..
pilu...
rindu ini mengusik
bayanganmu tak henti menelisik...
kau pemburu handal..
menjauhimu tetaplah aku kau temukan..
sembunyi..
cinta ku sembunyikan sendiri
cukup aku
biar aku yang merasa
bahwa cinta tak harus bersama selamanya..
doa-doa memeluk kita lebih erat..
tentang kesetiaan yang di uji
ya..aku mencintaimu
semampuku..
ujung timur jawa,
29 sep 13
Di antara rindu-rindu yang bersemayam dalam hati..
"ya..cinta harus menguatkan" katamu
bukan...
keyakinanku..
tentang cinta yang begitu nyata namun tak sanggup aku ungkap..
pilu...
rindu ini mengusik
bayanganmu tak henti menelisik...
kau pemburu handal..
menjauhimu tetaplah aku kau temukan..
sembunyi..
cinta ku sembunyikan sendiri
cukup aku
biar aku yang merasa
bahwa cinta tak harus bersama selamanya..
doa-doa memeluk kita lebih erat..
tentang kesetiaan yang di uji
ya..aku mencintaimu
semampuku..
ujung timur jawa,
29 sep 13
Senin, 16 September 2013
Kopi dan Kenangan yang Tak Usai
Dua cangkir
kopi hitam kau pesan kala itu
Di warung
86, tempat kau menungguku tanpa angan
Dan duduklah
kita ditepian hujan
Dengan gerimis
yang manis seperti senyum “kita”
Lekat kopi
tumpah di bajuku
Begitu juga
dengan kasih yang tak selesai
Tumpah ruah
di dadaku
Menyesakkan keramaian
sepanjang jalan kenangan “kita”
“Jangan
ucapkan selamat tinggal” kataku
“Tak kan
pernah” jawabmu sembari menatapku
Nanar..
Air mata
mengintip di balik kelopak mata sayuku
Harapkan
temu ialah setiap waktu
“dekap aku”
teriakku
Tak kau
dengar..
Hingar mengusik
kepergian
Bus kota
menjemputku dengan gegas
Selayak iba
melihat aku yang terpaku
Di depanmu
Dengan kisah
yang belum sempat aku sematkan
Di jari
manismu
Janjiku
Menunggumu
sebagai rindu
Berlalu
Senin, 09 September 2013
CINTA TAK SEPERTI
Cinta tak
harus diam,
Tak harus
disimpan sendirian
Sebab cinta
bukanlah mulut
Yang bisa
bungkam saat kalut
Cinta tak
bisa menunggu
Seperti
putaran waktu
Mengelilingi
360 derajat
Untuk menunjuk
pada angka 12
Cintaku tak
bisa seperti itu
Seperti
pemberhentian bus kota
Atau stasiun
kereta
Pun luasan
bandara
Sebab cinta
ialah hati
Yang bukan
untuk sekadar ditempati
Hanya
sementara kemudian disakiti
Lalu
ditinggal pergi
Cinta
bukanlah ruang tunggu
Untuk datang
dan pergi semaumu
Ia adalah
hati..
Adalah hati yang patut untuk diisi
Selasa, 13 Agustus 2013
SEBUAH PEMAKAMAN “KITA
Telah ku jatuhkan, tentang segala kesakitan bahkan luka-luka.
Kemudian ku pesan sebuah karangan bunga, sebuah peti, juga nisan lengkap dengan
tulisannya. Di tengah masa lalu, aku mengubur diriku hidup-hidup. Berbusana rapi
dan mendekam dalam peti ialah kenangan. Nisan menancap tegap bertuliskan “Masa
Lalu bin Tinggalkan, Lahir 6 Februari 2009, Wafat 11 Januari 2013”. Sebuah karangan
bunga kertas, bekas puisi serta surat cinta semata kata “kita”. Melebur bersama
hujan yang turun dari air mata kesia-siaan. Kita tak lagi ada sebagai
mimpi-mimpi. Hanya jejak yang tak perlu diingat meski “kita” ialah sesaat. Dan berhembuslah
ragu, menyeruak menusuk hidung hingga jantung (ku). Sesak. Ku raba dada kiriku.
Sudah tak ada namamu. Di hembusan terakhir,
sebuah doa ku panjatkan “tenanglah masa lalu kita, agar tak menghantui jalan
yang telah kita pilih”. Bayanganmu terpejam untuk selamanya di dasar tanah
makam “Masa Lalu”.
Rabu, 01 Mei 2013
KEHILANGAN KUTAWARKAN KEPADAMU, TUAN
Senja ini ku tawarkan sebuah kehilangan kepada
seorang Tuan. Sebenarnya bukan inginku, tapi ego rinduku yang terlalu menggebu
untuk selalu disapa. Telingaku terlalu bising kala rindu-rindu memanggil
namanya. Meski ku tahu Tuan itu mengerti pun merasa bahwa hati mendengar apa
yang tak ku kata. Inginku tak lebih, ucapan selamat pagi juga malam saja. Pengantar
hariku juga penutup keseharianku yang tanpanya disampingku.
“iya,aku cukup rewel dan bawel untuk kau miliki!”
kataku saat rindu tak bisa kudiamkan.
Tuan itu hanya tersenyum, memelukku dalam doanya. Hanya
itu yang dia lakukan saat rindunya (mungkin untukku) tiba-tiba berdatangan. Jarang
sekali ia sampaikan atau utarakan kepadaku dengan suaranya yang merdu itu.
Aku (dulu) pernah menjadi wanitamu, yang cukup diam
meski ingin bertemu selalu. Namun apalah..bila tiap temu hanya membuat candu
segala rinduku. Ku padamkan niatku, walau untuk menyapa saja ku tak mampu. Siapalah
aku? Bukan pemilik hatimu. Dan siapa kamu? Juga bukan pemilik hatiku. Hatiku dan
hatimu adalah milikNYA,Yang Maha Kuasa. Lalu untuk apa aku merengek jika aku
belum mampu untuk mencintaiNYA, sepertimu, bila aku saja belum begitu
sepenuhnya mengenal diriku sendiri juga penciptaku.
Mungkin itulah sebabnya aku menawarkan sebuah
kehilangan kepadamu Tuan. Aku belum bisa mencintai diriku sendiri. Tak sepertimu,
kau mencintai orang lain; sahabat-sahabatmu juga anak asuhmu, tak memikirkan
cintamu pada dirimu sendiri dimana aku sedikit hadir semenit diwaktumu. Hebatnya
kamu di mataku masih tetap sama seperti dulu.
Ya, mungkin itulah yang membuat aku tak mengerti. Bahkan
disaat kehilangan ku tawarkan padamu Tuan disaat senja hari ini. Aku masih
tetap tak mengerti. Karena aku belum mencintai diriku sendiri.
Segalamu masih ku ingat jelas, tentang cinta yang
harusnya menguatkan bukan malah melemahkan atau menyakitkan. Dari situ aku
bangkit juga merasakan sakit. Aku tetap mencoba berdiri saat kehilangan satu
persatu hadir seperti tak kuingini.
Dan mencoba untuk tak menghindar dari
segala hingar bingar kesendirian.
Terimakasih, suatu hari aku pasti mengerti tentang
hari ini.
Selasa, 30 April 2013
TUAN PEMUNGUT BIBIR
Di suatu siang aku berkenalan dengan seorang tuan di
taman rakyat. Kami duduk berdua di kursi reyot di bawah pohon rindang. Dibukanya
tas lusuh dari punggungnya, dan aku terheran.
“mengapa hanya ada bibir ?” tanyaku pada tuan itu.
“karena aku sering memungut bibir-bibir di tepi
jalan yang sudah tidak dipakai. Bibir ini bekas dari mulut yang biasanya dibeli
orang-orang kaya.” Jawab tuan itu dengan jujur.
“lalu mau kau apakan bibir-bibir tersebut,Tuan?”
tanyaku lagi.
“dari bibir ini aku menjadi pintar, banyak hal yang
aku dapatkan dari cerita mereka.” Jawabnya penuh semangat.
Aku pun diperkenalkan dengan mereka. Bibir perokok, peminum,
pencandu, pembunuh, wanita penghibur, orang baik, juga anak-anak. Aku mencoba
mendengarkan kepingan cerita dari mereka. Terkadang air liur menetes dari sudut
bibir, menandakan bahwa mereka tersiksa, terluka, kecewa dengan apa yang telah
dialami hingga mereka menjadi sebuah bibir usang yang dibuang.
Tuan itu kemudian menceritakan suasana malam bersama mereka. Saat bibir
pecandu dan perokok mengerat rerantingan pun daun kering. Saat bibir peminum
berlarian ke tepi comberan. Saat bibir pembunuh menyesapi batang pisang. Saat
bibir wanita penghibur mengulum jeruji dan mencumbu duri-duri. Saat bibir orang
baik melantunkan doa dan kebaikan. Saat bibir anak-anak merengek minta
disusukan.
Tuan itu hanya bisa memandang tingkah laku mereka. Kemudian
menyuapi dengan kata penenang tanpa pembangkangan dan kembang. Memandikan mereka
dengan air mengalir, agar segala yang buruk segera berakhir.
Kini bibir itu pun hanya bisa bernyanyi, menghibur
Tuan Pemungut Bibir. Bersenandung riang dari pagi hingga petang. Dan tidur
dengan wewangian kapur barus di dalam tas punggung Tuan Pemungut Bibir.
Langganan:
Postingan (Atom)