Telah ku jatuhkan, tentang segala kesakitan bahkan luka-luka.
Kemudian ku pesan sebuah karangan bunga, sebuah peti, juga nisan lengkap dengan
tulisannya. Di tengah masa lalu, aku mengubur diriku hidup-hidup. Berbusana rapi
dan mendekam dalam peti ialah kenangan. Nisan menancap tegap bertuliskan “Masa
Lalu bin Tinggalkan, Lahir 6 Februari 2009, Wafat 11 Januari 2013”. Sebuah karangan
bunga kertas, bekas puisi serta surat cinta semata kata “kita”. Melebur bersama
hujan yang turun dari air mata kesia-siaan. Kita tak lagi ada sebagai
mimpi-mimpi. Hanya jejak yang tak perlu diingat meski “kita” ialah sesaat. Dan berhembuslah
ragu, menyeruak menusuk hidung hingga jantung (ku). Sesak. Ku raba dada kiriku.
Sudah tak ada namamu. Di hembusan terakhir,
sebuah doa ku panjatkan “tenanglah masa lalu kita, agar tak menghantui jalan
yang telah kita pilih”. Bayanganmu terpejam untuk selamanya di dasar tanah
makam “Masa Lalu”.
Selasa, 13 Agustus 2013
Rabu, 01 Mei 2013
KEHILANGAN KUTAWARKAN KEPADAMU, TUAN
Senja ini ku tawarkan sebuah kehilangan kepada
seorang Tuan. Sebenarnya bukan inginku, tapi ego rinduku yang terlalu menggebu
untuk selalu disapa. Telingaku terlalu bising kala rindu-rindu memanggil
namanya. Meski ku tahu Tuan itu mengerti pun merasa bahwa hati mendengar apa
yang tak ku kata. Inginku tak lebih, ucapan selamat pagi juga malam saja. Pengantar
hariku juga penutup keseharianku yang tanpanya disampingku.
“iya,aku cukup rewel dan bawel untuk kau miliki!”
kataku saat rindu tak bisa kudiamkan.
Tuan itu hanya tersenyum, memelukku dalam doanya. Hanya
itu yang dia lakukan saat rindunya (mungkin untukku) tiba-tiba berdatangan. Jarang
sekali ia sampaikan atau utarakan kepadaku dengan suaranya yang merdu itu.
Aku (dulu) pernah menjadi wanitamu, yang cukup diam
meski ingin bertemu selalu. Namun apalah..bila tiap temu hanya membuat candu
segala rinduku. Ku padamkan niatku, walau untuk menyapa saja ku tak mampu. Siapalah
aku? Bukan pemilik hatimu. Dan siapa kamu? Juga bukan pemilik hatiku. Hatiku dan
hatimu adalah milikNYA,Yang Maha Kuasa. Lalu untuk apa aku merengek jika aku
belum mampu untuk mencintaiNYA, sepertimu, bila aku saja belum begitu
sepenuhnya mengenal diriku sendiri juga penciptaku.
Mungkin itulah sebabnya aku menawarkan sebuah
kehilangan kepadamu Tuan. Aku belum bisa mencintai diriku sendiri. Tak sepertimu,
kau mencintai orang lain; sahabat-sahabatmu juga anak asuhmu, tak memikirkan
cintamu pada dirimu sendiri dimana aku sedikit hadir semenit diwaktumu. Hebatnya
kamu di mataku masih tetap sama seperti dulu.
Ya, mungkin itulah yang membuat aku tak mengerti. Bahkan
disaat kehilangan ku tawarkan padamu Tuan disaat senja hari ini. Aku masih
tetap tak mengerti. Karena aku belum mencintai diriku sendiri.
Segalamu masih ku ingat jelas, tentang cinta yang
harusnya menguatkan bukan malah melemahkan atau menyakitkan. Dari situ aku
bangkit juga merasakan sakit. Aku tetap mencoba berdiri saat kehilangan satu
persatu hadir seperti tak kuingini.
Dan mencoba untuk tak menghindar dari
segala hingar bingar kesendirian.
Terimakasih, suatu hari aku pasti mengerti tentang
hari ini.
Selasa, 30 April 2013
TUAN PEMUNGUT BIBIR
Di suatu siang aku berkenalan dengan seorang tuan di
taman rakyat. Kami duduk berdua di kursi reyot di bawah pohon rindang. Dibukanya
tas lusuh dari punggungnya, dan aku terheran.
“mengapa hanya ada bibir ?” tanyaku pada tuan itu.
“karena aku sering memungut bibir-bibir di tepi
jalan yang sudah tidak dipakai. Bibir ini bekas dari mulut yang biasanya dibeli
orang-orang kaya.” Jawab tuan itu dengan jujur.
“lalu mau kau apakan bibir-bibir tersebut,Tuan?”
tanyaku lagi.
“dari bibir ini aku menjadi pintar, banyak hal yang
aku dapatkan dari cerita mereka.” Jawabnya penuh semangat.
Aku pun diperkenalkan dengan mereka. Bibir perokok, peminum,
pencandu, pembunuh, wanita penghibur, orang baik, juga anak-anak. Aku mencoba
mendengarkan kepingan cerita dari mereka. Terkadang air liur menetes dari sudut
bibir, menandakan bahwa mereka tersiksa, terluka, kecewa dengan apa yang telah
dialami hingga mereka menjadi sebuah bibir usang yang dibuang.
Tuan itu kemudian menceritakan suasana malam bersama mereka. Saat bibir
pecandu dan perokok mengerat rerantingan pun daun kering. Saat bibir peminum
berlarian ke tepi comberan. Saat bibir pembunuh menyesapi batang pisang. Saat
bibir wanita penghibur mengulum jeruji dan mencumbu duri-duri. Saat bibir orang
baik melantunkan doa dan kebaikan. Saat bibir anak-anak merengek minta
disusukan.
Tuan itu hanya bisa memandang tingkah laku mereka. Kemudian
menyuapi dengan kata penenang tanpa pembangkangan dan kembang. Memandikan mereka
dengan air mengalir, agar segala yang buruk segera berakhir.
Kini bibir itu pun hanya bisa bernyanyi, menghibur
Tuan Pemungut Bibir. Bersenandung riang dari pagi hingga petang. Dan tidur
dengan wewangian kapur barus di dalam tas punggung Tuan Pemungut Bibir.
BIDADARI(A)
Bidadari(a), aku lebih
suka menyebutnya seperti itu. Sekumpulan gadis ceria yang telanjang. Menari saat
pagi juga hampir petang pada aliran air sungai yang mungkin mereka anggap
sebagai taman surga. Bidadari(a) dari segala usia yang mempesona ikan-ikan juga
kekunang disekitarnya. Namun tidak untuk para pria (menurut pengamatanku
begitu).
Fajar mulai
menyingsing, embun mengering, dan kicau burung mulai sering. Langkah kaki bergantian
menuruni bebatuan besar, tumit yang mulus terbungkus jejak mimpi semalam. Gelak
tawa riang bersahutan menceritakan kisah yang telah lama disimpan. Mereka berkumpul,
setelah bergumul dengan waktu di bawah pohon tepian sungai, taman surga(nya). Pembalut
tubuh yang ditanggalkan, dada-dada diperlihatkan, juga lekukan kemolekan yang
tak malu dipertontonkan pada alam. Gerai rambut yang sering disibakkan, juga
beberapa butiran peluh di kening saat mencuci ialah kebisaan yang tak bisa
ditinggalkan. Merupakan tradisi, atau apalah, jelasnya mereka sudah terbiasa
bercumbu dengan aliran sungai bening itu.
Bidadari(a) yang pengasih
(mungkin seperti itu), ia sering menyusui sungai dengan kedua buah dadanya. Tak
enggan ia memeluk punggung-punggung batu, menyisir aliran air, kemudian menggelinjang
di dasar sungai. Matahari mereka gunakan sebagai handuk, mengeringkan setiap
lekukan tubuh dari air yang bersimpuh. Saat semua sudah kering, dadanya kembali
ia balut, kaki menapak rerumputan yang tak henti mengagumi, bidadari(a).
Saat mentari meninggi,
tegak di atas kepala. Terkadang hanya ada beberapa bidadari(a) yang menyapa
riuhnya sungai dan pengisinya. Sekedar menyegarkan pikiran dari penat yang
menyeruak, juga peluh yang ingin segera dibasuh. Tepian sungai yang tenang,
tempat segala resah dibuang dengan segala hal yang dapat dikenang diputar
berulang. Itulah bidadari(a) periang.
Sabtu, 13 April 2013
Kelupaan dan Kelukaan
Menikmati setoples
kelukaan dan kelupaan
Buatan tangan dan hasil
racikanmu
Sungguh enak bila ditambah
dengan secangkir ketenangan
Tanpa sesendok
kerisauan yang kau suguhkan
kelupaan dan kelukaan
yang renyah
dibumbui penyedap resah
terhidang dalam
kesengajaan kita
di meja bernama
perpisahan
Dalam waktu yang
bersamaan
Kita belajar saling
melupakan
Membahagiakan kenangan
yang lalu lalang
Dari terang hingga
petang
Melupakanmu itu mudah
Seperti saat kau
palingkan muka mu dari hadapku
Begitulah kau
mengajarkanku waktu lalu
Tak perlu kau pilu
begitu
Cinta Diam-diam
Dalam diamnya diam
Ada cinta yang ia
pendam
Mengapa tak kau
ungkapkan saja
Cinta yang kau genggam
dalam kesendirian
Apa lagi yang akan kau
sembunyikan
Dari sorot mata mu yang
tajam
Aku sudah bisa menerka
Cintamu keterlaluan kau
pendam dalam diam
Bicarakan saja
apa yang sering kau
tangisi kala malam menyapa
ialah kerinduan yang
tak tersampaikan
pada cinta kau memilih
diam
Rindu yang Berceceran
Ada yang bisa aku
bantu?
Merapikan rindumu
misalnya
Yang berceceran di
kolong tempat tidurmu
Pun di asbak meja tamu
Banyak rindu berceceran
di kamar
Semalam kau dan aku
mungkin lupa merapikan
Saat hatimu hatiku
saling berbenturan
Menikmati buaian indah
gemintang pun rembulan
Belum genap semalam kau
tinggalkan
Rinduku mulai meradang sayang
Ku punguti lagi sisa
rindu yang berceceran
Ku nikmati sebagi candu
yang membuat mabuk kepayang
Langganan:
Postingan (Atom)