Sabtu, 13 April 2013

Kelupaan dan Kelukaan

Menikmati setoples kelukaan dan kelupaan
Buatan tangan dan hasil racikanmu
Sungguh enak bila ditambah dengan secangkir ketenangan
Tanpa sesendok kerisauan yang kau suguhkan

kelupaan dan kelukaan yang renyah
dibumbui penyedap resah
terhidang dalam kesengajaan kita
di meja bernama perpisahan

Dalam waktu yang bersamaan
Kita belajar saling melupakan
Membahagiakan kenangan yang lalu lalang
Dari terang hingga petang

Melupakanmu itu mudah
Seperti saat kau palingkan muka mu dari hadapku
Begitulah kau mengajarkanku waktu lalu
Tak perlu kau pilu begitu


Cinta Diam-diam




Dalam diamnya diam
Ada cinta yang ia pendam
Mengapa tak kau ungkapkan saja
Cinta yang kau genggam dalam kesendirian

Apa lagi yang akan kau sembunyikan
Dari sorot mata mu yang tajam
Aku sudah bisa menerka
Cintamu keterlaluan kau pendam dalam diam

Bicarakan saja
apa yang sering kau tangisi kala malam menyapa
ialah kerinduan yang tak tersampaikan 
pada cinta kau memilih diam

Rindu yang Berceceran



Ada yang bisa aku bantu?
Merapikan rindumu misalnya
Yang berceceran di kolong tempat tidurmu
Pun di asbak meja tamu

Banyak rindu berceceran di kamar
Semalam kau dan aku mungkin lupa merapikan
Saat hatimu hatiku saling berbenturan
Menikmati buaian indah gemintang pun rembulan

Belum genap semalam kau tinggalkan
Rinduku mulai meradang sayang
Ku punguti lagi sisa rindu yang berceceran
                  Ku nikmati sebagi candu yang membuat mabuk kepayang

Senja Ku Mengenang




Pada senja yang menopang segala kerinduan
Aku haturkan salam penuh kenangan
Cinta yang berpisah pada jingga laramu
Merindu untuk pulang

Tetiba senja sembunyi di balik ketiak mendung
Tangisnya tak henti selayak rindu berkabung
Jingga pemerah pipi yang malang
Hadirmu kini hanya sebagai bayang

Lalu senja menghilang
Atau tak tau jalan pulang
Langit merona mengabu
Sendu tatapnya kian merayu

Tak ada jejak yang ia tinggalkan
Selain semburat yang melekat dalam ingatan
Akankah senja kembali
Menghitung mata yang menanti

Kidung Malam dan Sapamu, Tuan




Sesaplah malam
Sunyi  yang lebih merdu pada tuli telinga
Degub  yang bertalu menjelma syair cinta
Sebagai kidung sapamu,Tuan

Dalam selembar langit tak terkikis
Gemintang kau lukis
Rembulan kau iris
Penghibur  rasa saat mata menangis

Kekunang lanang pun kau panggil
Pendarkan sinar yang terang
Saat hati mulai menggigil
Merindukan bayang seseorang

Kata-katamu memelukku
Sebagai kidung malam yang kau nyanyikan
Kau putar berulang
Hingga ku terhantar di ujung malam

Rinai Hujan dalam Kerinduan

Rinai Hujan dalam Kerinduan

Hujan lama tak ku sajakkan
Derainya lama tak ku rindukan
Karena aku tak ingin mengingat kesedihanmu
pun linangan air mata yg berjatuhan

Hujan..
kau pun pergi
Dengan segala hal yang kurindui
Ternyata tak lagi aku miliki

Rintik menari riang
Bersama bayangmu yang kian menghilang
Aku hanya bisa bersandar
Memutar kenang sendirian

Tak kah kau rindukan
Rinai hujan dan pekat malam
Kala kita berpelukan
Menyatukan segala rasa yang terpendam